Gresik, Kolaborasi lintas komunitas untuk memperkuat budaya literasi dan
meningkatkan kompetensi pendidik kembali dilakukan di Kabupaten Gresik. Forum
Lingkar Pena (FLP) Kabupaten Gresik Divisi Karya, Lingkaran Edukasi Nusantara
dan Literasi Raya (Lentera) Jawa Timur, Bidang Pendidikan, Pelatihan,
Penelitian dan Pengembangan Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Gresik, serta
Ikatan Guru Inspirator Literasi Nasional (IGILN) Koordinator Kabupaten Gresik
menggelar pertemuan lintas komunitas pada Ahad, 30 Agustus 2026.
Kegiatan bertema “Sinergi Berkarya, Literasi Menginspirasi, Pendidikan Menguatkan” tersebut berlangsung di Hotel Khas Gresik, Ruang Diamond 1, Lantai 2, mulai pukul 08.00 hingga 12.30 WIB. Pertemuan menjadi ruang bersama untuk memperkenalkan komunitas, memaparkan program kerja, bertukar gagasan, sekaligus membangun rencana kolaborasi dalam bidang literasi dan pendidikan.
Sejak pukul 08.00 WIB,
peserta mengikuti agenda perkenalan antaranggota lintas komunitas. Suasana
pertemuan berlangsung terbuka dan kekeluargaan. Para peserta memiliki
kesempatan mengenal latar belakang, kegiatan, serta potensi kolaborasi dari
masing-masing organisasi.
Memasuki pukul 09.00 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan pembukaan yang diawali menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan, dan doa. Selanjutnya, Forum Lingkar Pena Kabupaten Gresik memaparkan program kerja Divisi Karya. Agenda tersebut dilanjutkan dengan penyampaian program dari Lentera Jawa Timur dan pembahasan rencana kegiatan Lentera Gresik.
Pada sesi berikutnya,
Bidang Pendidikan, Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan IGI Kabupaten Gresik
menyampaikan program yang berkaitan dengan peningkatan kompetensi guru,
khususnya dalam bidang pendidikan, pelatihan, penelitian, pengembangan, dan
literasi.
Ketua IGI Kabupaten
Gresik, Abdullah Halim, S.T., M.Pd., menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan
kolaborasi tersebut. Menurutnya, literasi merupakan salah satu fondasi penting
yang harus dimiliki pendidik karena kemampuan guru dalam memahami, mengolah,
dan mengembangkan informasi akan berpengaruh terhadap proses transfer
pengetahuan kepada peserta didik.
“Hal ini sangat penting untuk meningkatkan kemampuan seorang pendidik sehingga akan terjadi transfer ilmu yang mengalir dengan baik dari seorang guru ke siswanya jika pondasi literasinya sangat baik. Guru yang literat selalu memperbarui materi, metode, dan wawasan sesuai perkembangan zaman serta kebutuhan siswa,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa
penguasaan literasi juga memungkinkan guru mendampingi siswa dalam
menganalisis, mengevaluasi, dan memilah informasi secara bijak. Karena itu,
kerja sama lintas komunitas dinilai dapat memperluas ruang belajar bagi para
pendidik.
Menurut Abdullah, semangat tersebut selaras dengan motto IGI, “Sharing and Growing Together” atau Berbagi dan Tumbuh Bersama. Prinsip tersebut mendorong guru untuk saling berbagi ilmu, pengalaman, serta keahlian sehingga peningkatan kompetensi tidak dilakukan secara individual, melainkan melalui proses belajar bersama.
Sekretaris IGI
Kabupaten Gresik, Didin Rosyadi, S.Kom., M.Pd., yang turut mengikuti kegiatan,
menilai kolaborasi antarlembaga penting untuk memperluas dampak program
pengembangan kompetensi guru. Ia berharap kegiatan pelatihan, lokakarya, dan
berbagi pengalaman mengajar dapat terus dilakukan dengan melibatkan berbagai
organisasi yang memiliki perhatian terhadap pendidikan dan literasi.
Sementara itu, Koordinator
Lintas Komunitas, Siti Huroirohmatin, S.Pd., menyampaikan apresiasinya atas
terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap empat organisasi dapat terus
berkolaborasi dalam berbagai program.
“Saya sangat senang
acara pertemuan lintas komunitas ini berjalan dengan baik. Dari organisasi yang
konsen terhadap pengembangan kompetensi guru ini dapat berkolaborasi di setiap
kegiatan nantinya dan diharapkan dari masing-masing guru dapat menulis menjadi
buku nantinya,” ujarnya, disambut tepuk tangan peserta.
Salah satu agenda
penting dalam pertemuan tersebut adalah pembentukan pengurus IGILN Koordinator
Kabupaten Gresik dan pembentukan panitia Wisata Literasi Nasional (WLN).
Struktur panitia WLN dirancang berasal dari empat organisasi yang hadir.
Pembentukan tersebut menjadi langkah konkret untuk mengembangkan kegiatan
literasi secara bersama-sama.
Pertemuan berlangsung dalam suasana
kekeluargaan. Setiap organisasi menyampaikan gagasan dan program kerja secara
terbuka, peserta diberikan ruang
untuk memberikan masukan sehingga peserta dapat
mengetahui peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan bersama. Sebelum kegiatan
berakhir, seluruh peserta melakukan foto bersama sebagai dokumentasi dan
penanda komitmen kolaborasi.
Kegiatan ditutup dengan agenda ishoma dan
sayonara pada pukul 12.15–12.30 WIB. Pertemuan lintas
komunitas tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai forum silaturahmi, tetapi
berkembang menjadi gerakan kolaboratif yang menghasilkan kegiatan nyata. Dengan
semangat berbagi, berkarya, dan belajar bersama, para peserta diharapkan mampu
memperkuat kompetensi pendidik sekaligus menumbuhkan budaya literasi yang lebih
luas di Kabupaten Gresik. (Abdullah Halim)





0 Comments