Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Buku Cetak vs Digibook


Oleh : Eko Prasetyo

AKANKAH BUKU CETAK “PUNAH”?: Buku cetak dihadapkan pada tantangan teknologi seiring derasnya arus digitalisasi. (Sumber: dionyulianto.blogspot.com)
Pengurus Ikatan Guru Indonesia (IGI) Cabang Gresik tengah getol mengembangkan digibook alias buku digital. Saban Minggu, mereka berkumpul di rumah Sukari Darno, salah satu pengurus IGI Gresik untuk mempelajari apa saja yang dapat dimanfaatkan dari digibook demi kepentingan pembelajaran.
Demi keperluan itu, mereka membeli perangkat teknologi pendukung yang berbasis android. Hasil diskusi dari pertemuan rutin tersebut akhirnya diwujudkan Ahad, 31 Maret 2013, di gedung Pusat Penelitian Semen (PPS) milik PT Semen Gresik, Jalan A. Yani, Kota Gresik. IGI Gresik meluncurkan program satu guru satu tablet (sagusata). Kegiatan ini diresmikan oleh Sekjen IGI Moh. Ihsan dan Ketua IGI Gresik Marjuki. 
Sebelumnya, Ihsan mengutarakan bahwa digitalisasi semakin tak terelakkan. ”Belajar dengan memanfaatkan teknologi digital pun semakin mudah dan menyenangkan,” ujarnya di hadapan para guru yang mengikuti diskusi buku Memoar Guru dan workshop digibook yang dihelat IGI Gresik pada Minggu (31/3).
Ia mencontohkan belajar matematika yang terkait dengan bangun kubus. Dengan memanfaatkan software edukatif, belajar secara digital tentang kubus menjadi mudah, menarik, sekaligus hemat karena tidak memerlukan perangkat lain seperti gunting, kertas karton, dan lain-lain.
Untuk itu, Sukari yang didapuk sebagai salah satu narasumber menjabarkan lebih banyak tentang digibook. Termasuk, pengembangan aplikasi serta pemanfaatannya sebagai media pembelajaran.
Lantas, dengan kemajuan teknologi yang kian canggih dan adanya digibook, bagaimana nasib buku cetak? Seperti diketahui, majalah mingguan Newsweek yang punya tiras sebesar 1,5 juta eksemplar per edisi akhirnya menghentikan versi cetaknya. Tentu saja kabar ini sangat mengejutkan.
Sebagaimana dituturkan Ihsan, para siswa di Amerika Serikat sudah mulai meninggalkan buku cetak. Kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan memanfaatkan teknologi digital. Tak heran, dalam dialog Hamlet yang masyhur itu disebutkan bahwa to go digital or die.
Melihat gempuran teknologi seperti ini, tak heran jika banyak kalangan yang menilai bahwa keberadaan digibook tak terelakkan lagi. Alhasil, industri penerbitan yang bergerak di bidang buku cetak mengalami kelesuan. Apalagi, saat ini banyak e-book yang bisa diunduh dengan mudah dan gratis.
Namun, secara pribadi, saya melihat bahwa buku cetak masih memiliki daya tarik. Ia masih memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan literasi masyarakat. Di sisi lain, baik buku cetak maupun digibook memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Digibook lebih ringkas dan praktis dibandingkan buku cetak. Dalam satu tablet, seseorang bisa membaca atau mengunduh banyak buku digital. Namun, buku cetak mampu menyimpan romansa tersendiri bagi penggemar fanatiknya. Ada ikatan emosional yang begitu kuat sehingga sayang jika ”hilang” begitu saja seperti ”punahnya” kaset seiring dengan munculnya MP3.
CEO Penerbit Bentang Pustaka Salman Faridi mengaku lidahnya kelu saat melihat film dokumenter Home: We Have a Date With a Planet. Ini mengisahkan tentang bumi yang mengalami kerusakan luar biasa. Termasuk hilangnya banyak pohon yang menjadi bahan baku kertas, yang notabene sumber utama buku cetak (Mizan.com). Kekhawatiran ini mungkin bisa diatasi salah satunya dengan pemanfaatan kertas daur ulang yang ramah lingkungan.
Di sisi lain, kita tak boleh lupa bahwa teknologi semakin maju. Hal ini membawa konsekuensi tersendiri. Yakni, perubahan yang selalu mengikuti perkembangan teknologi. Bisa jadi saat ini digibook mulai mendapat tempat di negara-negara maju dan berkembang.
Namun, tak ada yang bisa meramalkan kelanggengan atau nasib suatu buku. Baik buku cetak maupun buku digital. Pada akhirnya, yang menentukan nanti adalah manusia sebagai pengguna produk itu sendiri.
Yang pasti, buku cetak masih akan ada dan tetap diperlukan, terutama di Indonesia. Apalagi, kemajuan teknologi informasi dan internet belum sepenuhnya bisa dinikmati secara merata oleh masyarakat kita di seluruh nusantara. Namun, kita juga tidak harus menutup mata akan keberadaan dan perlunya digibook.
Sebab, pada dasarnya, kemajuan teknologi justru memberikan fasilitas kemudahan bagi manusia. Jika tidak memanfaatkannya secara baik dan maksimal dalam bidang ilmu pengetahuan, kita bakal semakin jauh tertinggal dari negara lain.
Yang paling realistis adalah penggunaan secara berimbang dan wajar tanpa harus menilai bahwa salah satu di antaranya pantas ditinggalkan. Ibaratnya, jangan tinggalkan dulu buku cetak karena di situ tersimpan hubungan emosi yang kuat dan banyak nostalgia. Kita tentu tak ingin kehilangan romansa bersamanya. Bukan begitu?
Kota Pahlawan, 1 April 2013

Post a Comment

0 Comments